Minggu, 07 April 2013

Lapas Cebongan, Pereman Dan Kopassus

Teori peperangan yang dibuat oleh Napoleon bonaparte yaitu Esprit de corps. Pasukan satu sama lain harus saling membantu, melindungi, berbagi, mengingatkan, menjaga, dengan kata lain senasip sepenanggungan untuk bersama dalam satu unit untuk memenangkan pertempuran.

Jiwa korsa sebenarnya dimiliki oleh semua orang dalam lingkungan masyarakat yaitu semangat positip saling membantu satu sama lain, tercermin dalam interaksi masyarakat, satu suku, satu Rt, satu kelurahan, satu daerah, satu ormas atau satu partai.

Penyerbuan lapas cebongan, menyangkut jiwa korsa Prajurit Elite TNI AD Baret Merah. Dalam kasus lapas cebongan' saya melihat lebih pada upaya menjaga wibawa kopassus, atas meninggalnya prajurit elite Serka Heru Santosa, akibat di keroyok empat preman di Hugo's Caffe pada 19 maret 2013.
Jika empat orang yang dibunuh oleh kopassus adalah orang yang tepat' para preman yang membunuh rekannya, saya sangat setuju sekalipun benar melanggar hukum. Yang saya sayangkan mengapa kopassus harus bergerak dengan sebelas orang, apa tidak bisa dilakukan dengan enam orang saja agar lebih terlihat Elite-nya.
Tentu saja masih terbilang elite sekalipun bergerak dengan sebelas orang' yang sanggup membobol penjaga keamanan lapas, serta bertindak dengan singkat. Yang penting jangan sampai mengaku elite, tapi untuk membunuh dua penjahat harus kerahkan satu kompi pasukan dan sampai satu hari satu malam, lengkap dengan kru wartawan. setahu saya yang dinamakan pasukan elite' bisa bertindak dengan cepat, tepat, tanpa harus pamrih pencitraan, apalagi saat melakukan aksinya harus diliput kusus di TV.

Kita semua tidak bisa menutup mata setelah lengsernya suharto, diera reformasi' masyarakat mengalami krisis keamanan, para preman sudah tidak lagi takut melihat seragam loreng dan coklat terutama preman kelas kakap, kalau preman kelas teri tetap masih takut sama hansip.

Sebagai masyarakat yang cinta sikap militeris, tentu saja aneh jika melihat polisi dengan slogannya bersahabat dan melindungi tapi mengembangkan cara yang membuat polisi tidak berwibawa, misalkan menampilkan polisi yang pintar berjoget dan para polisi wanita cantik bak model, lebih narsis lagi polisi ganteng. 
Saya setuju semangat melindungi masyarakat dengan cara bersahabat'  metode tersebut dilakukan agar masyarakat tidak takut bila berurusan dengan polisi, tapi bukan berarti dengan cara joget-joget dan lomba menjadi model. Mayarakat sadar siapa bersahabat dengan siapa, polisi tetaplah polisi, maka pendekatan pada masyarakat untuk bersahabat juga gunakan cara-cara polisi, bukan dengan cara seperti penyanyi india atau model cantik yang mesam-mesem.

Masyarakat tetap akan kagum oleh aksi profesional TNI dan POLRI dalam dunia tempur. Sekalipun semua polisi wanita wajib kesalon sebelum tugas agar terlihat cantik seperti Briptu..... [ah saya lupa namanya], masyarakat tetap sadar mereka melihat siapa dan apa tugasnya.

Saya sangat antusias jika melihat TNI dan POLRI tidak menggunakan tatapan mata siap membunuh jika sedang bermasalah dengan sipil,  tapi bukan berarti TNI dan POLRI mengembangkan sikap membuat para preman ngelunjak dan tidak takut lagi melihat petugas keamanan negara' yang seharusnya nama mereka membuat ngeri para pelaku tindak kejahatan.

Pendapat saya diatas murni personal atas sudut pandang saya pribadi, Atas dasar Kecintaan saya pada TNI dan POLRI.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar